Sekilas tentang Pemberian Gelar Doktor Honoris Causa (HC)/ Gelar Kehormatan di Universitas Gadjah Mada

Written by Arsip UGM on . Posted in Telisik

Oleh Ully Isnaeni Effendi

Gelar Doktor Honoris Causa (H.C)/Doktor Kehormatan adalah gelar kesarjanaan yang diberikan oleh suatu perguruan tinggi/universitas yang memenuhi syarat kepada seseorang, tanpa orang tersebut perlu untuk mengikuti dan lulus dari pendidikan yang sesuai untuk mendapatkan gelar kesarjanaannya tersebut. Gelar Doktor Honoris Causa dapat diberikan apabila seseorang tersebut telah dianggap berjasa dan atau berkarya luar biasa bagi ilmu pengetahuan dan umat manusia. Tidak semua perguruan tinggi/universitas dapat memberikan gelar Doktor Honoris Causa (H.C)/Doktor Kehormatan, hanya perguruan tinggi/universitas yang memenuhi syaratlah yang diberikan hak secara eksplisit untuk memberi gelar Doktor Honoris Causa (H.C)/Doktor Kehormatan. Terdapat beberapa peraturan yang menjelaskan mengenai pemberian Gelar Doktor Honoris Causa (HC)/Gelar Kehormatan, baik peraturan secara nasional maupun intern Universitas Gadjah Mada (UGM).

Persyaratan

Pada tahun 1963 terdapat Keputusan Menteri Perguruan Tinggi dan Ilmu Pengetahuan No.120 Tahun 1963 tentang Penertiban Pemberian Gelar “Doctor” dan “Doctor Honoris Causa” (Doktor Kehormatan) serta Gelar-gelar Sarjana Kehormatan Lain. Keputusan Menteri Perguruan Tinggi dan Ilmu Pengetahuan tersebut menyebutkan bahwa:

  1. Gelar Doktor, disingkat Dr diberikan kepada Sarjana setelah menempuh dengan hasil baik sesuai promosi dengan mempertahankan sebuah thesis.
  2. Yang berwenang menyelenggarakan promosi tersebut adalah universitas negeri/universitas swasta disamakan.
  3. Syarat-syarat untuk menjadi promovendus, syarat-syarat dan prosedur promosi diatur Menteri Perguruan Tinggi dan Ilmu Pengetahuan.
Peraturan lainnya adalah Peraturan Pemerintah Republik Indonesia (RI) dengan Nomor 43 Tahun 1980 tentang Pemberian Gelar Doktor Kehormatan (Doctor Honoris Causa). Peraturan Pemerintah RI tersebut dikeluarkan sebagai bentuk penyeragaman pemberian Gelar Doktor Kehormatan (Doctor Honoris Causa) oleh perguruan tinggi dengan berdasarkan syarat-syarat serta tata cara yang seragam dan sesuai dengan makna dan tujuannya. Dalam Peraturan Pemerintah RI tersebut dijelaskan bahwa gelar tersebut adalah gelar kehormatan yang diberikan oleh suatu perguruan tinggi kepada seseorang yang dianggap telah berjasa dan atau berkarya luar biasa bagi ilmu pengetahuan dan umat manusia. Pasal 2 ayat (1) pada Peraturan Pemerintah tersebut menyebutkan bahwa gelar kehormatan ini dapat diberikan kepada Warga Negara Indonesia (WNI) atau Warga Negara Asing (WNA). Pasal 2 ayat (2) menyebutkan bahwa gelar tersebut diberikan sebagai tanda penghormatan bagi jasa atau karya:
  1. yang luar biasa di bidang ilmu pengetahuan dan teknologi, pendidikan, dan pengajaran;
  2. yang sangat berarti bagi pengembangan pendidikan dan pengajaran dalam satu atau sekelompok bidang ilmu pengetahuan, teknologi, dan sosial budaya;
  3. yang sangat bermanfaat bagi kemajuan atau kemakmuran dan kesejahteraan Bangsa dan Negara Indonesia pada khususnya serta umat manusia pada umumnya;
  4. yang  secara luar biasa mengembangkan hubungan baik dan bermanfaat antara Bangsa dan Negara Indonesia dengan Bangsa dan Negara lain di bidang politik, ekonomi, dan sosial budaya;
  5. yang secara luar biasa menyumbangkan tenaga dan pikiran bagi perkembangan perguruan tinggi.
Tidak semua perguruan tinggi/universitas dapat memberikan gelar Doktor Honoris Causa (H.C)/Doktor Kehormatan. Terdapat beberapa persyaratan yang harus dipenuhi oleh perguruan tinggi sebelum memberikan Gelar Doktor Kehormatan (Doctor Honoris Causa), yaitu:
  1. Pernah menghasilkan sarjana dengan gelar ilmiah doktor;
  2. memiliki fakultas atau jurusan yang membina dan mengembangkan bidang ilmu pengetahuan yang bersangkutan dengan bidang ilmu pengetahuan yang menjadi ruang lingkup jasa dan atau karya bagi pemberian gelar;
  3. memiliki Guru Besar Tetap sekurang-kurangnya 3 (tiga) orang dalam bidang yang dimaksud dalam poin nomor 2.
Selanjutnya, pada tahun 1992, terdapat Surat Edaran Menteri Pendidikan dan Kebudayaan RI No. 52/MPK/92 tentang Pedoman Pemberian Gelar Doctor Honoris Causa yang menjelaskan beberapa poin yaitu:
  1. berdasarkan Undang-Undang No.2 Tahun 1989 tentang Sistem Pendidikan Nasional Pasal 18 ayat (5) yang menyatakan bahwa “institut dan universitas yang memenuhi persyaratan berhak untuk memberikan gelar doktor kehormatan (Doctor Honoris Causa) kepada tokoh-tokoh yang dianggap perlu memperoleh penghargaan amat tinggi berkenan dengan jasa-jasa yang luar biasa dalam bidang ilmu pengetahuan, teknologi, kemasyarakatan, dan kebudayaan.”
  2. Gelar Dr.H.C. dapat diberikan oleh universitas/institut yang memenuhi persyaratan kepada tokoh kesarjanaan/akademisi:
    1. yang berjasa luar biasa dalam pengembangan suatu disiplin ilmu tetapi tidak/belum memiliki gelar doktor dalam disiplin yang bersangkutan;
    2. yang telah memliki gelar doktor dalam suatu disiplin ilmu yang diperoleh dari suatu universitas / institut, dan bukan dari universitas/institut yang akan memberikan gelar Dr.H.C.
    3. yang telah memiliki gelar Dr.H.C. dalam suatu disiplin ilmu, kemudian mendapat gelar Dr.H.C. dalam suatu disiplin ilmu lain dari universitas/institut yang sama atau yang lain.
  3. Universitas/institut dapat memberikan penghargaan dengan cara lain, seperti misalnya pemberian medali, piagam, penyebutan nama gedung dalam lingkungan almamater, dsb. kepada tokoh dari luar lingkungan kesarjanaan/akademik atas jasanya pada universitas/institut yang bersangkutan atau pengabdiannya untuk kepentingan umum, tetapi tidak dengan pemberian gelar Dr.H.C. yang merupakan gelar akademik.
  4. Sekalipun di negara-negara tertentu dilakukan juga pemberian gelar Dr.H.C. kepada tokoh dari lingkungan luar kesarjanaan/akademik, namun hal itu tidak mendapat apresiasi positif dari kalangan akademik yang ingin mempertahankan bobot gelar Dr.H.C. sesuai dengan harkatnya sebagai gelar akademik. Oleh sebab itu maka sebaiknya di Indonesia dengan tradisi akademik yang relatif masih muda dan memiliki universitas/institut yang belum semuanya mantap dan mapan sebagai pusat ilmiah, sebaiknya ditetapkan ketentuan yang ketat sebagaimana tersebut di atas.
Dalam Keputusan Menteri Pendidikan dan Kebudayaan RI No. 036/U/1993 tentang Gelar dan Sebutan Lulusan Perguruan Tinggi sebagai pelaksanaan dari ketentuan Bab VII Peraturan Pemerintah Nomor 30 Tahun 1990 tentang Pendidikan Tinggi disebutkan pada pasal 15 bahwa Gelar Doktor Kehormatan (Doctor Honoris Causa) dapat diberikan kepada seseorang yang telah berjasa luar biasa bagi ilmu pengetahuan, teknologi, kebudayaan, kemasyarakatan dan/atau kemanusiaan. Terdapat persyaratan bagi calon penerima gelar Doktor Kehormatan, yaitu memiliki gelar akademik sekurang-kurangnya sarjana dan berjasa luar biasa dalam pengembangan suatu disiplin ilmu pengetahuan, teknologi, kebudayaan, kemasyarakatan dan/atau kemanusiaan. Pasal 16 ayat (2) menyebutkan bahwa ada persyaratan bagi perguruan tinggi pemberi gelar tersebut adalah universitas atau institut yang memiliki wewenang menyelenggarakan Program Pendidikan Doktor berdasarkan surat keputusan menteri. Pasal 20 dalam Keputusan Menteri Pendidikan dan  kebudayaan RI No. 036/U/1993 tentang Gelar dan Sebutan Lulusan Perguruan Tinggi disebutkan bahwa perguruan tinggi yang tidak memenuhi persyaratan sesuai dengan ketentuan peraturan perundang-undangan yang berlaku tidak dibenarkan memberikan gelar akademik, sebutan profesional, sebutan profesi dan/atau gelar doktor kehormatan. Ditambahkan pula dalam pasal 21, bahwa:
  1. Gelar akademik dan/atau sebutan profesional yang diperoleh secara sah tidak dapat dicabut atau ditiadakan oleh siapapun;
  2. Keabsahan perolehan gelar akademik dan/atau sebutan profesional dapat ditinjau kembali karena alasan akademik;
  3. Dan pelaksanaan ketentuannya akan diatur oleh Direktur Jenderal.

Sejarah Fakultas Sastra dan Kebudajaan UGM 1946-1982

Written by Arsip UGM on . Posted in Telisik

Oleh Musliichah

Perkembangan fakultas di lingkungan UGM sangat dinamis. Hal ini ditunjukkan dengan pendirian, pembubaran, penggabungan, pemekaran/pemecahan, maupun pergantian nama fakultas. Salah satu bukti dinamika tersebut adalah keberadaan Fakultas Sastra dan Kebudajaan UGM yang saat ini menjadi Fakultas Ilmu Budaya UGM. N ama Fakultas Sastra dan Kebudajaan UGM berlaku sejak tahun 1955 (sebelum tahun 1955 bernama Fakultas Sastra, Pedagogik dan Filsafat UGM) dan berakhir tahun 1982 (kemudian bernama Fakultas Sastra UGM). Fakultas Sastra UGM kemudian berganti nama menjadi Fakultas Ilmu Budaya UGM. Tulisan ini menyajikan informasi tentang perkembangan Fakultas Sastra dan Kebudajaan UGM dimulai dari embrio pendiriannya tahun 1946 hingga tahun 1982, ketika berganti nama menjadi Fakultas Sastra UGM. Informasi-informasi ini ditulis berdasarkan sumber arsip yang tersimpan di Arsip UGM sehingga penyebutan nama-nama lembaga atau unit-unit kerja masih menggunakan ejaan lama sesuai dengan kutipan pada sumber arsip.

Kebun Pendidikan, Penelitian, dan Pengembangan Pertanian Universitas Gadjah Mada: Menelisik Perkembangan Kelembagaan Berdasar Arsip

Written by Arsip UGM on . Posted in Telisik

Oleh Zaenudin

Sejarah KP4

Kebun Pendidikan, Penelitian, dan Pengembangan Pertanian Universitas Gadjah Mada atau biasa disingkat KP4 UGM terletak di Desa K alitirto , Berbah , Sleman , Yogyakarta. Kebun tersebut berjarak sekitar 15 km dari Kampus UGM arah timur. Apabila ditempuh dengan kendaraan bermotor memerlukan waktu kurang lebih 20 sampai 30 menit. Kebun yang berwujud sawah, lereng, wedi kengser dan beberapa gedung tersebut mempunyai luas total 35 hektar dan terdiri atas 3 blok. Blok I terdiri atas: IA, IB, IC, ID, dan IE. Blok II terdiri atas: IIA, IIB, IIC, IID, dan IIE. Sedangkan Blok III terdiri atas IIIA dan IIIB (Laporan KP4 Tahun 1990, hal. 6).

Kebun pendidikan UGM itu didirikan pada tahun 1975. Pada waktu itu ada pemikiran bahwa fakultas-fakultas dalam lingkungan Agrokompleks UGM (Fakultas Pertanian, Fakultas Teknologi Pertanian, Fakultas Kehutanan, Fakultas Peternakan, Fakultas Kedokteran Hewan, dan Fakultas Biologi) harus memiliki kebun percobaan yang memadai untuk menunjang pelaksanaan tridarma perguruan tinggi. The Rockfeller Foundation menjanjikan bantuan peralatan, apabila UGM dapat menyediakan tanah dan bangunan. Rektor UGM berusaha sekuat tenaga menangkap tantangan dan peluang itu, hingga akhirnya berhasil membeli tanah di Kalitirto Berbah Sleman seluas 35 hektar melalui Departeman Pendidikan dan Kebudayaan RI. Segera setelah itu, The Rockfeller Foundation memberikan peralatan yang dijanjikan berupa: sebuah traktor besar, sebuah traktor mini, bebe r apa a l a t l apangan dan laboratorium, pagar bumi keliling, dan biaya operasional selama beberapa tahun (Laporan KP4 Tahun 1990, hal. 1)

Sekilas Asrama Universitas Gadjah Mada

Written by Arsip UGM on . Posted in Telisik

oleh Ully Isnaeni Effendi

Setiap tahun pengajaran, Universitas Gadjah Mada (UGM) selalu mengalami kenaikan jumlah mahasiswa. Sejak tahun-tahun awal UGM berdiri jumlah mahasiswa semakin lama semakin bertambah diikuti dengan kebutuhan akan pembangunan. Tahun pengajaran 1950-1951, universitit mempersiapkan pembelian tanah di Jalan Pakem, kira-kira 1 Km2 yang kemudian akan didirikan gedung-gedung universitit yang akan dipandang sebagai pembangunan yang besar di Indonesia. Pendanaan pembangunan disetujui oleh Kementrian Keuangan dan bantuan Pemerintah Daerah. Dalam rancangan pembangunan gedung-gedung tersebut juga direncanakan pembangunan rumah-rumah untuk asrama dengan gedung rekreasinya dan tempat-tempat untuk olahraga. Persoalan asrama bagi mahasiswa dapat diatasi atas bantuan Panitia Pengawas Asrama (di bawahpimpinan KRT Notojoedo, kemudian diganti oleh Prof. Ir. Soewandi), Persatuan Wanita Keluarga UNGM dengan menitipkan mahasiswa ke keluarga-keluarga yang dapat menerimanya. Semua ditanggung oleh Universitit kecuali makan ditanggung mahasiswa.

Melalui perantaraan PJM Dr. Mohamad Hatta, Menteri Pendidikan, Pengajaran dan Kebudayaan, Prof. Bahder Djohan setuju dan berusaha minta persetujuan Menteri Keuangan untuk memperoleh dana Rp.15.000.000,- untuk membeli sebidang tanah, tempat gedung-gedung UGM di kemudian hari akan didirikan. Di atas tanah tersebut sekarang terlihat bangunan dengan panjang 125 m, lebar 83 m, tinggi 25 m, dan mempunyai 3 lantai yang luasnya berjumlah 18.450 m² . Selain itu, ada sekelompok bangunan besar, 4 bangunan berlantai 2 dan 1 gedung berlantai 3 dengan luas lantai 27.500 m² . Selanjutnya di atas tanah tersebut sudah berdiri 50 rumah untuk guru-guru, kemudian sudah dibangun rumah sakit-rumah sakit dan asrama-asrama.

Pada tanggal 19 September 1954 diresmikan Gedung Asrama Darma Putera dengan kapasitas 300 mahasiswa putera yang berlokasi di Baciro. Bangunan asrama ini berupa dua gedung bertingkat dua, cukup untuk memberi tempat tinggal sekitar 400 orang. Peresmian dilakukan oleh J.M. Menteri PP dan K. Bahkan, P.J.M. Presiden, Dr. Ir. Soekarno mengirimkan ucapan selamat atas pembukaan gedung asrama tersebut.

Peran Serta UGM pada Awal Perkembangan Atom di Indonesia

Written by Arsip UGM on . Posted in Telisik

oleh Fitria Agustina

Kata “atom” tentu sudah tidak asing lagi bagi masyarakat. Hampir setiap orang pernah mendengar, bahkan kian hari kian dikenal orang. Tercatat dalam khazanah arsip yang tersimpan di Arsip Universitas Gadjah Mada (UGM)mengenai sejarah tenaga atom, manfaat bagi kehidupan manusia dan kegunaan atom dalam usaha pembangunan di berbagai bidang di Indonesia. Dengan merunut kembali tentang perkembangan dunia atom, khususnya peranan UGM, akan memberikan gambaran tentang atom pada awal perkembangannya di Indonesia.

Sejarah Perkembangan Tenaga Atom di Indonesia

Pertama kalinya rakyat Indonesia mendengar tentang tenaga atom ialah dengan dijatuhkannya bom atom di Hiroshima dan Nagasaki tahun 1945 yang telah melumpuhkan Jepang hingga menyerah tanpa syarat kepada Sekutu. Perhatian akan tenaga atom di Indonesia semakin besar sesudah peralihan kedaulatan pada tahun 1954. Kemudian pemerintah membentuk Panitia Penyelidik Radiasi yang diberi tugas untuk mengadakan penyelidikan mengenai radio aktivitas di Indonesia dengan melakukan percobaan senjata nuklir antara lain di Lautan Pasifik. Selain itu, Panitia Penyelidik Radiasi yang diketuai oleh Prof. G.A. Siwabessy, juga mempunyai tugas untuk mempelajari kemungkinan-kemungkinan dipergunakannya tenaga atom dalam usaha pembangunan di Indonesia. Hasil-hasil yang diperoleh dari pengukuran radio aktivitas yang telah dilakukan di berbagai tempat di Indonesia tidak menunjukkan tanda-tanda yang mengkhawatirkan. Oleh karena itu, Prof. G.A. Siwabessy mengusulkan kepada pemerintah agar dibentuk sebuah badan eksekutif yang bergerak khusus di bidang tenaga atom yang mempunyai lingkup fasilitas-fasilitas dan tenaga ahli Indonesia dalam usaha penggunaan tenaga atom di Indonesia. Usul dari Prof. G.A. Siwabessy telah mendapat perhatian dari pemerintah dan dibentuklah Lembaga Tenaga Atom berdasarkan PP Nomor 65 tahun 1958. Sejak didirikan, lembaga ini telah berusaha keras dalam waktu singkat membawa pengetahuan bidang atom di negara kita pada suatu lingkaran yang sederajat dengan keadaan di negara-negara maju. Dalam rangka itu telah dibuat rencana yang terdiri dari 3 tahap, masing-masing terdiri dari 5 tahun.

  1. Rencana 5 tahun pertama diselenggarakan tahun 1959-1964, meliputi:
    1. Pembentukan manpower, yang diusahakan dengan jalan training dan pendidikan di luar dan atau di dalam negeri
    2. Mendirikan fasilitas-fasiltas primer untuk penelitian, training dan pendidikan di Jogja, Bandung, Serpong dan Pasar Djumat dekat Jakarta.
    3. Mengusahakan reaktor-reaktor yang dapat menghasilkan radio isotop, untuk dapat mengembangkan penelitian dan penggunaan tenaga atom di berbagai bidang, disamping memberikan kesempatan kepada para ahli untuk mempersiapkan diri untuk dapat merencanakan, membangun, dan menjalankan sendiri reaktor penelitian dan power reactor. Reaktor dalam rencana ini adalah TRIGA MARK II di Bandung dan Serpong yang baru saja selesai.
    4. Mempersiapkan diri di bidang pengawasan yang tidak hanya bersifat teknis atom, tetapi juga mempunyai aspek hukum yang sah.
  2. Rencana lima tahun kedua diselenggarakan dari tahun 1965-1970 dan meliputi persiapan-persiapan untuk dapat membangun reaktor-reaktor tenaga listrik di tahun 1970. Rencana ini meliputi:
    1. Survei geologi.
    2. Pembangunan laboratorium untuk menganalisa dan proses dari Badan Tenaga Atom.
    3. Mempersiapkan rencana-rencana untuk reaktor untuk keperluan propulsi.
  3. Rencana lima tahun ketiga diselenggarakan tahun 1970-1975, meliputi:
    1. Pembangunan power reactor beserta fasilitas-fasilitas untuk mengambil manfaat dan keuntungan yang sebesar-besarnya dari adanya power reactor tersebut.
    2. Meningkatkan nilai penelitian dan efisiensi di bidang atom yang tidak terbatas pada jangka waktu ini saja .
    3. Menyempurnakan instalasi-instalasi yang telah ada danefisiensi penggunaannya.

Hasil-hasil yang telah dicapai sudah cukup memuaskan. Usaha latihan dan pendidikan tenaga-tenaga Indonesia di dalam maupun di luar negeri telah menghasilkan kader yang cukup banyak untuk menjalani dan mempergunakan fasilitas dalam bidang tenaga atom yang sudah ada di Indonesia.

Dalam rangka memperbesar perhatian dan menambah pengetahuan tentang tenaga atom telah diselenggaralan seminar pertama tentang tenaga atom di Bandung pada tahun 1962 dan study group meeting di Jakarta pada tahun 1965 yang membahas tentang penggunaan tenaga atom untuk masa yang akan datang di Indonesia.

Manfaat Tenaga Atom

Dalam pidato PJM Presiden Soekarno pada Pembukaan Subcritical Atomic Reactor di UGM menyebutkan pentingnya pengetahuan atom bagi perikemanusiaan. Beliau memberi contoh manfaat atom dalam bidang kedokteran, seperi dalam kutipan: “Tahukah Saudara-saudara bahwa saja, sebagai pribadi adalah orang jang pertama, orang Indonesia jang pertama jang pernah mengalami tjara penjelidikan dokter, medical treatment, dengan katakanlah dengan ilmu atom. Belum ada orang Indonesia seperti saja ini, perkara ito lho, perkara itu, belum ada orang Indonesia jang seperti saja. Saja ceritakan, tatkala saja beberapa pekan jang lalu diobati di kota Wina, penjakit batu gindjal, seperti Saudara-saudara, sesudah para dokter, para professor mengeluarkan batu gindjal dari tubuh saja ini, para professor itu ingin mengetahui dari dua gindjal saja ini kanan dan kiri, ini lho satu di sini satu di sini (dengan menunjuk letaknja). Apakah dua-duanja masih kuat dan apakah dua-duanja masih sama kuat. Sudah bertahun-tahun gindjal saja itu, atau lebih tepat saja katakan, salah satu daripada dua gindjal saja itu, bertahun-tahun diganggu oleh batu. Dan sesudah batunja keluar, professor-professor ini ingin mengetahui, apakah gindjal-gindjal saja itu masih kuat, atau tepat, sama kuatnja apa tidak, jang kanan dan jang kiri. Saja dimasukkan zat radio aktif Saudara-saudara. Badan saja ini dimasukkan zat radio aktif, zat radio aktif itu masuk ke dalam darah saja, masuk di dalam gindjal saja, dari dua gindjal dan gindjal dan terus seterusnja. Nah ini, professor-professor itu ingin mengetahui, gindjal dua ini apakah sama kuatnja, ataukah masih kuat. Mereka lantas mengambil apa jang dinamakan Geiger counter, Geiger counter special untuk manusia. Saudara mengetahui kalau ada barang jang radio aktif lantas di Geiger meter, Geiger counter, penghitung Geiger, lantas si meter, si penghitung, si counter ini mengadakan reaksi, tk, tk, tk,tk, tk, kalau banjak; kalau kurang banjak tjuma tk, tk, tk, tk, tk, tk, tk, tk. Saja punja dua gindjal di Geiger counter. Nah dengan begitulah dokter-dokter ini mengetahui gindjal mana jang masih kuat atau berapa kuatnja gindjal-gindjal saja itu. Saja tidak bilang sama Saudara mana jang lebih kuat.”

Selain itu, dalam khazanah arsip lainnya, “Tenaga Atom di Indonesia”, menyebutkan juga beberapa manfaat tenaga atom yaitu:

  1. Di dalam reaktor-reaktor daya, tenaga yang dihasilkan pembelahan inti digunakan untuk membangkitkan listrik. Misalnya untuk kapal selam pembangkitan tenaga listrik dari tenaga inti mempunyai keunggulan-keunggulan daripada listrik dari bahan kimia. Bahan bakar inti tidak membutuhkan udara untuk pembakarannya. Oleh karena itu, kapal selam yang menggunakan tenaga inti dapat jauh lebih lama menyelam di bawah permukaan laut. Selain itu, kapal selam yang menggunakan tenaga inti dapat berbulan-bulan tinggal di tengah-tengah samudera sebelum perlu berlabuh untuk mengganti bahan bakarnya.
  2. Pembuatan air tawar dari air asin
  3. Dalam bidang pertanian penggunaan sinar radioaktif dapat menghasilkan jenis tanaman yang lebih baik yaitu jenis tanaman yang memberikan hasil lebih besar dan/atau tanaman yang lebih tahan terhadap penyakit.
  4. Dalam bidang kedokteran menggunakan zat-zat radioaktif untuk diagnosa atau terapi penyakit kanker. 5. Dalam bidang industri teknik zat-zat radioaktif digunakan untuk pengujian kualitas barang-barang logam, teknik pengaturan macam-macam proses dengan menggunakan isotop-isotop radioaktif, dan pengawetan makanan dengan sinar-sinar radioaktif.

Peran Serta UGM

Berikut beberapa peran serta UGM dalam perkembangan tenaga atom:

  1. Proyek reaktor di UGM. Untuk melaksanakan tugas-tugas BATAN dengan sebaik-baiknya sebagai instansi pemerintah tertinggi dalam bidang tenaga atom, diperlukan suatu perencanaan yang baik. BATAN telah menyusun perencanaan yang dibagi dalam tahap-tahap, masing-masing terdiri dari lima tahun. Untuk merealisasi rencana tersebut, maka didirikan proyek-proyek. Proyek-proyek yang telah dilaksanakan tersebut digolongkan menjadi empat kelompok, yaitu: reaktor, bahan-bahan tenaga atom, isotop, serta pendidikan dan research. Proyek GAMA yang dilaksanakan di Yogyakarta bertujuan untuk membangun fasilitas-fasilitas penelitian yang terdiri dari: subcritical assembly, laboratorium isotope, reactor simulator, gamma irradiator, terutama untuk menampung kemampuan dan keinginan Fakultas Ilmu Pasti dan Alam (FIPA)UGM dalam bidang nuklir. Penggunaan fasilitas penelitian tersebut dimaksudkan untuk penelitian dan latihan dalam bidang reaktor atom, fisika, radio kimia, pertanian, dsb. Semua kegiatan tersebut dilaksanakan berdasarkan kerja sama antara FIPA UGM dengan BATAN, yang dimulai tahun 1960. Dan status pada bulan Agustus 1965 adalah  semuanya telah selesai dan dipergunakan oleh FIPA UGM. Kegiatan selanjutnya akan dibangun Isotope Training Centre.
  2. Mengadakan eksperimen dengan Subcritical Assembly di FIPA UGM. Subcritical Assembly diresmikan pada tanggal 18 Desember 1961 oleh PJM Presiden Soekarno. Dalam pidato sambutannya disebutkan tentang asal Subcritical Assembly ini. “Tatkala saja mengadakan pembitjaraan dengan J. Perdana Menteri Krushchow, satu hal jang segera saja bitjarakan dengan beliau ialah, saja minta bantuan agar supaja di Indonesia lekas bisa diadakan satu atomic reactor. Dan seketika itu djuga beliau berkata, saja akan kabulkan permintaan Saudara Soekarno ini. Maka berhubung dengan itulah lebih dahulu saja mengutjap terima kasih kepada rakjat Sovjet Uni umumnja, kepada Saudara Perdana Menteri Khruschow chususnja, kepada semua pekerdja-pekerdja, pembantu-pembantu dari Sovjet Uni jang merealisasikan Subcritical Assembly di Indonesia ini.”
  3. Fume hood dalam laboratorium radio isotop di Fakultas Ilmu Pasti dan Alam yang dipakai dalam penggunaan isotop-isotop radio aktif.
  4. Mendidik dalam bidang-bidang ilmu pengetahuan murni yang berkaitan dengan atom yaitu Fakultas Ilmu Pasti dan Alam (termasuk Bagian-bagian Kimia, Fisika, Ilmu Pasti) dan Fakultas Teknik.
  5. Membuat G-M counters oleh ahli- ahli Indonesia di UGM.
  6. Seminar Tenaga Nuklir Seminar tenaga nuklir berlangsung pada tanggal 21-24 Januari 1970 diselenggarakan oleh BATAN dengan Puslit GAMA sebagai tuan rumah. Seminar yang bertempat di Aula Perpustakaan Pusat UGM Sekip Unit V tersebut dihadiri oleh 61 orang peserta dan 17 orang peninjau yang berasal dari berbagai instansi seperti Ditdjen Gatrik, PLN, Lembaga Masalah Ketenangan, Lembaga Fisika Nasional, Ditdjen Litbang AURI, Puster Serpong dan Bandung BATAN Pusat, Puslit Pasar Djumat, FIPA UGM/Puslit GAMA, dll. Penyelenggaraan seminar tersebut bertujuan untuk:
  1. Menelaah informasi-informasi yang penting mengenai perkembangan segi teknis dan ekonomis dari introduksi PLTN di Indonesia khususnya, dan negara-negara yang sedang berkembang pada umumnya.
  2. Mempertemukan sarjana-sarjana Indonesia dari berbagai Badan, Jawatan, dan lembaga-lembaga ilmiah untuk saling bertukar pikiran dan ilmu pengetahuan dalam bidang tersebut.
  3. Sejauh mungkin membantu merumuskan kebijaksanaan pemerintah dan meninjau langkah-langkah yang perlu ditempuh dalam perencanaan program tenaga nuklir.
  4. Membahas permasalahan yang mungkin timbul.