Arsip:

Telisik

Sejarah Singkat Balai Pembinaan Administrasi Universitas Gadjah Mada

Gagasan pendirian Balai Pembinaan Adminitrasi (BPA) UGM bermula dari gagasan/ cita-cita yang berasal dari beberapa pihak, yaitu :

  1. Kementerian Dalam Negeri
  2. Universitas Gadjah Mada (Fakultas Sosial dan Politik UGM)
  3. Kepala Daerah Istimewa Yogyakarta
  4. International Cooperation Administration (ICA)

Pembangunan Wisma Kagama

Keluarga Alumni Universitas Gadjah Mada (KAGAMA) dibentuk oleh reuni/konggres I alumni Universitas Gadjah Mada (UGM) di
Yogyakarta tanggal 18 Desember 1958. Hal ini tercantum dalam Anggaran Dasar (AD) KAGAMA yang ditetapkan pada tanggal 21
Februari 1981 oleh Musyawarah Nasional Ke IV seluruh Indonesia di Jakarta. Dalam pasal 5 AD KAGAMA mempunyai tujuan
sebagai berikut:

  • Mempererat dan membina kekeluargaan diantara alumni UGM serta keluarganya
  • Membantu meningkatkan peranan almamater UGM dalam melaksanakan Tri Dharma Perguruan Tinggi
  • Melaksanakan dan memelihara hubungan kerjasama badan-badan kekeluargaan lain di dalam lingkungan UGM
  • Menjalankan usaha-usaha dan aktif memberikan bantuan yang diperlukan demi tercapainya segala tujuan dan tugas almamater bagi kemajuan dan kesejahteraan para anggota baik sprituil maupun materiil
  • Mendorong para nggotanya untuk mengembangkan serta menerapkan ilmu dan keahliannya untuk dimanfaatkan sebesar-besarnya bagi masyarakat, bangsa, dan negara pada khususnya serta umat manusia pada umumnya.
  • Selengkapnya

    Pesawat Gelatik untuk Universitas Gadjah Mada

    Universitas Gadjah Mada dan 4 universitas lainnya yaitu Institut Te k n o l o g i B a n d u n g ( I T B ) , Universitas Cendrawasih (Irian Jaya), Universitas Syah Kuala (Banda Aceh), dan Universitas Mulawarman (Samarinda) menerima pesawat Gelatik buatan PT Nurtanio Bandung jenis PZL 104. Hal tersebut sesuai dengan Keputusan Direktur Jenderal Pendidikan Tinggi Departemen Pendidikan dan Kebudayaan RI No. 011/DJ/Kep/1980 tentang Penyerahan Pesawat Terbang Gelatik PZL 104 Kepada Pimpinan
    Universitas Gadjah Mada dan Institut Teknologi Bandung tertanggal 5 Februari 1980. SK tersebut menyebutkan bahwa pertama, menyerahkan pesawat terbang Gelatik PZL 104 kepada: a) Pimpinan Universitas Gadjah Mada b) Pimpinan Institut Teknologi Bandung masing-masing sebuah pesawat terbang. Kemudian yang kedua adalah kepada masing-masing Pimpinan Universitas Gadjah Mada dan Institut Teknologi Bandung, ditugaskan untuk memanfaatkan pesawat terbang tersebut sesuai dengan tujuan pemanfaatannya. Ketiga, biaya pemeliharaan dan pengoperasian pesawat tersebut dibebankan pada anggaran rutin Universitas Gadjah Mada dan Institut Teknologi Bandung. Selengkapnya

    Tata Cara Pemilihan Rektor UGM dari Tahun 1950 – 2012

    “Alhamdulillah kami sudah punya pejabat rektor dengan legitimasi kuat,” kata Ketua Majelis Wali Amanat (MWA) Sofian Effendi
    saat mengumumkan hasil pemungutan suara di Gedung Pusat UGM, Kamis 22 Maret 2012. Melalui putaran akhir pemungutan suara
    MWA UGM, Prof. Pratikno, Dekan Fakultas Ilmu Sosial Politik UGM, meraih kemenangan telak dalam pemilihan rektor periode 2012-2017 (http://www.tempo.com).

    Menyusuri Jejak UGM Cabang Magelang dari Khazanah Arsip UGM

    UGM Cabang Magelang? Pertanyaan ini tak juga mau berlalu. Bukan apa-apa, selama ini kisah tentang UGM Cabang Magelang nyaris tak pernah terdengar. Dalam berbagai carikan dokumen atau buku-buku yang tentang sejarah UGM hampir tak diketemukan kisah tentang ini. Padahal UGM pernah membangun gedung untuk Fakultas Teknik (FT) di Magelang. Jadi adakah ini seperti sebuah kisah sejarah yang tercecer?” (www.ugm.ac.id)

    Dari lembaran arsip yang tersimpan di Arsip UGM, kita dapat merunut kembali keberadaan UGM Cabang Magelang. Arsip-arsip tersebut menjadi bukti keberadaan UGM Cabang Magelang sekaligus saksi yang dapat menceritakan sejarah UGM Cabang  Magelang. Dalam Laporan Akhir Jabatan Pelaksana Pimpinan Harian UGM Cabang Magelang Tahun 1978 disebutkan riwayat singkat UGM Cabang Magelang. UGM Cabang Magelang bermula dari sebuah perguruan tinggi swasta yang didirikan oleh Yayasan PTM. Selengkapnya

    Pesona Wanagama dalam Lembaran Arsip

    Nama Wanagama tidak asing lagi bagi sivitas akademika Universitas Gadjah Mada (UGM). Sebuah nama yang diperuntukkan bagi
    hutan yang dimiliki oleh UGM. Wanagama terbentuk dari dua kata yaitu wana yang dalam bahasa Jawa berarti alas atau hutan dan gama yang merupakan akronim dari Gadjah Mada. Jadi Wanagama berarti alas atau hutan yang dirintis, dimiliki dan dikelola oleh Universitas Gadjah Mada. Hutan Wanagama bahkan sudah dikenal oleh masyarakat dunia, terbukti dengan banyaknya tamu-tamu mancanegara yang datang silih berganti mengunjunginya. Selengkapnya

    Peran Prof. Notonagoro dalam Pengembangan Pancasila

    Dalam kehidupan sehari-hari setiap warga negara terikat oleh suatu peraturan yang harus ditaati. Dalam hal ini tidak hanya peraturan yang berkaitan dengan hukum saja yang harus ditaati, tetapi juga menyangkut sopan santun yang menjadi pedoman dalam kehidupan pribadi maupun bermasyarakat. Oleh karena pedoman itu menyangkut seluruh perilaku hidup bangsa kita, maka seluruh bagian wajib untuk ikut membentuk etika hidup tersebut dan berperan serta kearah tersusunnya rumusan etika hidup bersama.

    Berdasarkan buku Serial Pemikiran Tokoh-Tokoh UGM: Prof. Notonagoro dan Pancasila “Analisis Tekstual dan Kontekstual”  disebutkan bahwa etika hidup bersama ini tertuang dalam Pancasila, yang telah menetapkan dasar-dasar azasi bagi warga dan bangsa Indonesia dan juga menetapkan sikap batin bagi negara dan bangsa. Pancasila merupakan pandangan hidup dan ideologi Bangsa Indonesia. Sebagai pandangan hidup Pancasila berperan sebagai tuntunan dan pedoman dalam kehidupan sehari-hari manusia sehingga semua kegiatan akan terkendali, sedangkan sebagai ideologi, Pancasila berperan untuk mewujudkan tujuan nasional yang berupa kesejahteraan seluruh rakyat Indonesia. Selengkapnya

    Sejarah Singkat Berdirinya Universitas Gadjah Mada

    Sejarah Balai Perguruan Tinggi berdasarkan Laporan Dies yang kesatu tahun 1974 tertulis “Siapakah mula-mula yang mempunyai pikiran untuk mendirikan Balai Perguruan Tinggi Gadjah Mada?”. Pada tanggal 24 Januari 1946 di Gedung S.M.T. Kotabaru,
    Yogyakarta diadakan pertemuan antara beberapa cerdik pandai untuk mendiskusikan kemungkinan mendirikan balai perguruan tinggi (universitas swasta) di Yogyakarta, sebagai promotor Sdr. Mr. Boediarto (ketua), Sdr. Ir. Marsito, Sdr. Prof. Dr. Prijono dan Sdr. Mr. Soenardjo. Pengurus terdiri dari Dr. Soeleiman, Dr. Boentaran, Dr. Soeharto, B.P.H. Bintoro, Prof. H. Farid Ma’ruf, Mr. Mangunjudo, K.P.H. Nototaruno, dan Prof. Ir. Rooseno. Selengkapnya

    Menilik Sejarah Lahirnya RSUP Dr. Sardjito

    Prof. Dr. Sardjito, pendidik dan tokoh kesehatan, sekaligus Rektor Universitas Gadjah Mada, memiliki cita-cita luhur, yaitu didirikannya rumah sakit pemerintah yang terpusat di Yogyakarta. Gagasan itu muncul sejak tahun 1954. Saat itu, rumah sakit pemerintah masih terpencar-pencar, yaitu di Pugeran, Mangkubumen, Jenggotan, dan ada lagi yang di Loji Kecil. Hal ini membuat
    terpencarnya praktik mahasiswa kedokteran. Cita-cita tersebut mendapat dukungan DPRD DIY. Pada tahun 1960, DPRD mengusulkan kepada pemerintah untuk mendirikan rumah sakit. Meskipun usulnya diterima, namun realisasinya masih tersendat, karena kondisi keuangan negara yang tidak stabil. Barulah pada akhir tahun 1969, gagasan itu dapat terwujud. Rumah sakit yang direncanakan mulai
    dibangun pada tahun 1970. Namun, sungguh disayangkan pada tahun tersebut Prof. Dr. Sadjito meninggal dunia. Oleh sebab itu,  untuk mengenang jasa-jasa beliau, rumah sakit itu diberi nama RSUP Dr. Sardjito. Selengkapnya

    escort bayan escort bayan izmir escort