Belajar Arsip di Arsip UGM

Pengelolaan arsip merupakan salah satu kegiatan untuk memastikan bahwa dokumen suatu lembaga, organisasi atau bahkan arsip perorangan, baik berupa arsip aktif, arsip inaktif maupun arsip statis terkelola dengan baik. Seperti ...
Read More

Benchmarking Kementrian Perindustrian

Dalam rangka memberi wawasan dan pengetahuan tentang pengelolaan arsip di lembaga lain, Biro Umum Kementerian Perindustrian pada tanggal 5 Juli 2019 melakukan benchmarking di Arsip UGM. Kegiatan kunjungan ke Arsip ...
Read More

Rilis Berita

UGM in Memory

Peran UGM dalam Pelestarian Pesut Mahakam
Bangsa Indonesia wajib bersyukur karena diberikan karunia kekayaan alam yang melimpah, bahkan kekayaan itu tidak dimiliki oleh bangsa lain, diantaranya adalah Pesut Mahakam. Pesut Mahakam termasuk satwa langka di dunia dan mempunyai nilai estetika, ekologis, dan ilmiah yang tinggi. Menurut sumber dari Wikipedia populasi satwa langka yang dilindungi undang-undang ini hanya terdapat pada tiga lokasi di dunia yakni Sungai Mahakam, Sungai Mekong, dan Sungai Irawady. Namun, diberitakan bahwa pesut di Mekong dan Sungai Irrawaddy sudah punah. Di Indonesia satwa ini sudah ditetapkan sebagai binatang yang harus dilindungi berdasarkan SK Menpan Th 1975 No 35/Kpts/Um/I/1975.
Arsip Universitas Gadjah Mada sebagai lembaga yang bertugas dan bertanggungjawab dalam pengelolaan arsip statis di lingkungan UGM, menyimpan beberapa arsip mengenai upaya-upaya yang telah dilakukan oleh UGM dalam rangka pelestarian Pesut Mahakam. Arsip yang tersimpan diantaranya: Informasi kronologis upaya pelestarian Pesut Mahakam, Surat Bapedalda kepada UGM perihal tindak lanjut kerjasama pelestarian Pesut Mahakam, Surat UGM kepada Kepala Bapedalda Kaltim mengenai kunjungan ke Kaltim dan Rapat Panitia Pengarah, Laporan singkat kunjungan Panitia Pengarah ke Kalimantan TImur 14-19 Agustus 2002, dan Short Information of Fresh Water Dolphin Pesut Mahakam in East Kalimantan.
Yang Tercecer dari Sejarah UGM: Sejarah Singkat Fakultas Pendidikan (PEDAGOGIK) UGM, 1955 – 1964
Kedudukan Yogyakarta sebagai Ibukota RI yang baru telah mendorong pendirian pendidikan tinggi milik pemerintah dan pendirian pendidikan tinggi oleh swasta. Rencana pendirian pendidikan tinggi oleh pihak swasta dipelopori oleh antara lain Boediarto, Prijono, dan Soenarjo. Dalam pertemuan tanggal 24 Januari 1946 di Sekolah Menengah Tinggi (SMT) di Kotabaru yang dihadiri
tokoh-tokoh nasional telah dibicarakan rencana pendirian sebuah badan penyelenggara pendidikan tinggi oleh yayasan swasta. Dalam pertemuan tersebut juga dibentuk sebuah panitia yang terdiri Ki Hajar Dewantara, Soenarjo, Darmosapoetro, Abutari, B.P.H. Bintoro, Boediarto, Boentaran, Faried Ma‟ruf, Marsito, Prijono, Roosseno, Soekiman, K.R.T. Notojoedo, K.P.H. Nototaroeno, dan Sajid Mangoenjoedo. Tanggal 17 Februari 1946, panitia tersebut berhasil mendapatkan Akta Notaris pendirian yayasan ”Balai
Perguruan Tinggi Gadjah Mada” (BPTGM). Kemudian pada pertemuan tanggal 28 Februari 1946 telah disepakati pembentukan Badan Wakaf dan Dewan Kurator. Badan Wakaf diketuai oleh Boediarto sedangkan presiden Dewan Kurator Sri Sultan Hamengkubuwono IX dan wakil presidennya adalah Ki Hajar Dewantara. Pengumuman resmi pembentukan BPTGM baru dilakukan pada tanggal 3 Maret 1946 di gedung Komite Nasional Indonesia (KNI) di Malioboro. Pada saat didirikan, BPTGM memiliki dua Fakultas yaitu (1) Faculteit Hoekoem dan Economie, dan (2) Faculteit Sastra, Filsafat, dan Keboedajaan.
Sebenarnya, pada tahun 1946 rencana pendirian bagian pendidikan guru pada BPTGM sudah ada. Hal tersebut terlihat dari Turunan Surat Presiden Dewan Kurator BPTGM yang ditujukan kepada Menteri Pengajaran, Pendidikan dan Kubudayaan tanggal 1 Mei 1946, sebagai berikut:
…direntjanakan djoega pendidikan goeroe … dalam ilmoe bahasa
Indonesia, bahasa Daerah, bahasa Asing, ilmoe Negara, Ekonomi,
Sociologi dsb, sehingga dalam waktoe doea-tiga tahoen Negara kita
dapat mempoenjai goeroe-goeroe jang dipekerdjakan di sekolah
menengah dan sekolah sekolah menengah tinggi ...
Namun karena situasi dan kondisi negara yang belum stabil menyebabkan rencana tersebut belum terealisir dan perkuliahan-perkuliahan juga kurang lancar, bahkan pada akhir tahun 1948 sampai menjelang akhir tahun 1949 perkuliahan berhenti sama sekali akibat pendudukan militer Belanda di Yogyakarta
Menelusuri Jati Diri Universitas Gadjah Mada dalam Lembar Arsip
Universitas Gadjah Mada (UGM) merupakan universitas pertama yang didirikan oleh Pemerintah Republik Indonesia (RI). UGM dilahirkan dalam suasana penuh semangat dan harapan di tengah-tengah kancah perjuangan merebut kembali kemerdekaan. Universitas tersebut merupakan gabungan berbagai perguruan tinggi yang sudah ada sebelumnya. Tepat setengah tahun setelah Kemerdekaan Indonesia yaitu pada 17 Februari 1946 berdirilah perguruan tinggi swasta bernama Balai Perguruan Tinggi Gadjah Mada (BPTGM) di Yogyakarta. Setelah itu secara berangsur-angsur dalam kurun waktu 2 tahun, antara tahun 1946 – 1948, Pemerintah Indonesia yang mengungsi ke Yogyakarta juga telah mendirikan beberapa perguruan tinggi. Di Yogyakarta pemerintah mendirikan Sekolah Tinggi Teknik dan Akademi Ilmu Politik. Di Klaten berdiri Perguruan Tinggi Kedokteran, Perguruan Tinggi Kedokteran Hewan, dan Perguruan Tinggi Pertanian. Sementara di Solo Pemerintah membangun Perguruan Tinggi Kedokteran (Bagian Klinik) dan Balai Pendidikan Hukum. Didorong oleh cita-cita pemerintah untuk memiliki universitas nasional sendiri dan didasari oleh semangat dan kebesaran jiwa semua pihak, akhirnya kedelapan lembaga tersebut digabung menjadi sebuah universitas dengan nama ”Universiteit Negeri Gadjah Mada”. Penggabungan tersebut disyahkan melalui Peraturan Pemerintah No. 23 tanggal 16 Desember 1949.
Pendidikan tinggi di Indonesia sebenarnya telah dimulai pada masa kolonial Belanda, namun sempat terhenti sebentar pada tahun 1942 di awal masa pendudukan Jepang. Tujuh dari delapan perguruan tinggi di atas (selain BPTGM) bahkan sudah dirintis oleh Belanda dan Jepang di berbagai kota besar di Indonesia, seperti: Jakarta, Bogor, Bandung dan Surabaya. Setelah Proklamasi Kemerdekaan para mahasiswa mengambil alih perguruan-perguruan tinggi tersebut dan menyerahkan kepemimpinannya
pada orang Indonesia. Sayang kegiatan pendidikan oleh orang Indonesia tidak berlangsung lama menyusul kedatangan Tentara Sekutu dan NICA (Netherlands Indies Civil Administration – tentara Belanda yang ingin menguasai kembali Indonesia).
Satu demi satu kota-kota tersebut jatuh ke tangan Sekutu-Belanda. Keadaan ini memaksa pemindahan ibukota negara ke Yogyakarta pada bulan Januari 1946. Perpindahan ibukota memicu para mahasiswa, dosen dan orang-orang yang setia pada RI untuk  memindahkan kegiatan pendidikan dan berbagai fasilitasnya ke Yogyakarta. Usaha yang berat dan penuh resiko karena dalam situasi perang. Pemindahan harus dilakukan sembunyi-sembunyi dan bertahap. Karena di Yogyakarta tidak cukup tersedia gedung dan perumahan, akhirnya perpindahan perguruan-perguruan tinggi tersebut meluber ke Klaten dan Solo.
Sejarah di Balik Nama dan Tanggal Kelahiran Universitas Gadjah Mada
Tidak sia-sia nama Gadjah Mada dipilih untuk nama Universitas kita…
(Laporan Tahunan Rektor UGM 19 September 1964)
Nama tidak hanya sekedar deretan huruf yang membentuk kata. Demikian halnya dengan nama Universitas Gadjah Mada. “Gadjah Mada” mengandung makna dan harapan. Seperti yang tercatat dalam laporan tahunan Rektor UGM tahun 1964 bahwa mengambil Gadjah Mada sebagai nama universitas kita bukanlah hal yang sia-sia.
Pada tahun 1964 dalam Rapat Senat Terbuka Univeritas Gadjah Mada diperingati 600 tahun wafatnya Mahapatih Gadjah Mada, Mahapatih Negara Kesatuan Madjapahit. Dalam rapat senat tersebut disampaikan gambaran kemungkinan membentuk sebuah negara kesatuan baik negara asing maupun negara Indonesia. Dasar-dasar ilmiah yang sangat kuat sekalipun, belum mampu menjamin mudahnya pembangunan negara kesatuan dalam daerah kepulauan yang demikian luas. Namun kesatuan politik berupa Kerajaan Majapahit yang meliputi seluruh kepulauan Indonesia telah terbentuk pada jaman Hayam Wuruk (1350-1389) atas jasa Mahapatih Gadjah Mada.
Kegiatan Pengenalan Kampus bagi Mahasiswa UGM dari Masa ke Masa
Orientasi studi dan pengenalan kampus atau yang sering kita dengar dengan istilah ”Ospek” merupakan pintu gerbang memasuki perguruan tinggi bagi setiap mahasiswa baru. Ospek merupakan salah satu sarana untuk membentuk watak dan kepribadian bagi seorang mahasiswa baru.
Sekilas tentang Sebutan Pimpinan Tertinggi di Universitas Gadjah Mada
Ada beberapa definisi kata rektor yaitu: dalam pengertian akademis, agama, dan politik. Rektor dalam lingkup akademis merupakan jabatan pimpinan utama dari lembaga pendidikan formal, pada umumnya di lingkup Perguruan Tinggi (universitas dan institut). Rektor dalam bahasa Indonesia diartikan sebagai pimpinan lembaga perguruan tinggi. Menurut Undang-Undang Sistem Pendidikan Nasional 2009 (UU SISDIKNAS), Rektor adalah pimpinan tertinggi perguruan tinggi yang berkewajiban memajukan ilmu pengetahuan di masing-masing institusi melalui pendidikan dan penelitian, serta memberikan kontribusi maksimal kepada khalayak luas.
Sejarah Singkat Berdirinya Universitas Gadjah Mada
Sejarah Balai Perguruan Tinggi berdasarkan Laporan Dies yang kesatu tahun 1974 tertulis “Siapakah mula-mula yang mempunyai pikiran untuk mendirikan Balai Perguruan Tinggi Gadjah Mada?”. Pada tanggal 24 Januari 1946 di Gedung S.M.T. Kotabaru, Yogyakarta diadakan pertemuan antara beberapa cerdik pandai untuk mendiskusikan kemungkinan mendirikan balai perguruan tinggi (universitas swasta) di Yogyakarta, sebagai promotor Sdr. Mr. Boediarto (ketua), Sdr. Ir. Marsito, Sdr. Prof. Dr. Prijono dan Sdr. Mr. Soenardjo. Pengurus terdiri dari Dr. Soeleiman, Dr. Boentaran, Dr. Soeharto, B.P.H. Bintoro, Prof. H. Farid Ma’ruf, Mr. Mangunjudo, K.P.H. Nototaruno, dan Prof. Ir. Rooseno.
Setelah persiapan selesai, pada tanggal 3 Maret 1946 di Gedung K.N.I. Malioboro Yogyakarta diadakan pertemuan resmi untuk mengumumkan berdirinya Balai Perguruan Tinggi Gadjah Mada dengan bagian fakultas hukum dan fakultas kesusasteraan. Dengan demikian, pada tahun 1946 di Yogyakarta ada dua perguruan tinggi, yaitu Balai Perguruan Tinggi Gadjah Mada dan Sekolah Tinggi Teknik (berdiri tanggal 17 Februari 1946). Sekolah Tinggi Teknik ini merupakan usaha penghidupan kembali Sekolah Tinggi Teknik Bandung, yang terpaksa ditutup karena suasana perang antara Indonesia dan tentara sekutu. Sekolah Tinggi Teknik Bandung dipimpin oleh Prof. Ir. Rooseno dan Prof. Ir. Wreksodhiningrat. Oleh karena itu, mahasiswa Fakultas Teknik Bandung dapat melanjutkan pendidikannya dan menempuh ujian insinyur di Sekolah Tinggi Teknik Yogyakarta.
Peran Prof. Notonagoro dalam Pengembangan Pancasila
Dalam kehidupan sehari-hari setiap warga negara terikat oleh suatu peraturan yang harus ditaati. Dalam hal ini tidak hanya peraturan yang berkaitan dengan hukum saja yang harus ditaati, tetapi juga menyangkut sopan santun yang menjadi pedoman dalam kehidupan pribadi maupun bermasyarakat. Oleh karena pedoman itu menyangkut seluruh perilaku hidup bangsa kita, maka seluruh bagian wajib untuk ikut membentuk etika hidup tersebut dan berperan serta kearah tersusunnya rumusan etika hidup bersama.
Berdasarkan buku Serial Pemikiran Tokoh-Tokoh UGM: Prof. Notonagoro dan Pancasila “Analisis Tekstual dan Kontekstual”  disebutkan bahwa etika hidup bersama ini tertuang dalam Pancasila, yang telah menetapkan dasar-dasar azasi bagi warga dan bangsa Indonesia dan juga menetapkan sikap batin bagi negara dan bangsa. Pancasila merupakan pandangan hidup dan ideologi Bangsa Indonesia. Sebagai pandangan hidup Pancasila berperan sebagai tuntunan dan pedoman dalam kehidupan sehari-hari manusia sehingga semua kegiatan akan terkendali, sedangkan sebagai ideologi, Pancasila berperan untuk mewujudkan tujuan nasional yang berupa kesejahteraan seluruh rakyat Indonesia.
Pesona Wanagama dalam Lembaran Arsip
Nama Wanagama tidak asing lagi bagi sivitas akademika Universitas Gadjah Mada (UGM). Sebuah nama yang diperuntukkan bagi hutan yang dimiliki oleh UGM. Wanagama terbentuk dari dua kata yaitu wana yang dalam bahasa Jawa berarti alas atau hutan dan gama yang merupakan akronim dari Gadjah Mada. Jadi Wanagama berarti alas atau hutan yang dirintis, dimiliki dan dikelola oleh Universitas Gadjah Mada. Hutan Wanagama bahkan sudah dikenal oleh masyarakat dunia, terbukti dengan banyaknya tamu-tamu mancanegara yang datang silih berganti mengunjunginya.
Wanagama terletak di wilayah Kabupaten Gunungkidul. Luasnya mencapai 600 hektar meliputi empat desa di dua kecamatan yang berbeda, yakni Kecamatan Patuk dan Playen. Tepatnya di sebelah tenggara Kota Yogyakarta yang berjarak tempuh kurang lebih satu jam perjalanan menggunakan kendaraan bermotor. Sepanjang jarak sekitar 35 kilometer tersebut terhampar hijaunya pesona alam dan indahnya pemandangan Kota Yogyakarta dari ketinggian.
Menyusuri Jejak UGM Cabang Magelang dari Khazanah Arsip UGM
UGM Cabang Magelang? Pertanyaan ini tak juga mau berlalu. Bukan apa-apa, selama ini kisah tentang UGM Cabang Magelang nyaris tak pernah terdengar. Dalam berbagai carikan dokumen atau buku-buku yang tentang sejarah UGM hampir tak diketemukan kisah tentang ini. Padahal UGM pernah membangun gedung untuk Fakultas Teknik (FT) di Magelang. Jadi adakah ini seperti sebuah kisah sejarah yang tercecer?” (www.ugm.ac.id)
Dari lembaran arsip yang tersimpan di Arsip UGM, kita dapat merunut kembali keberadaan UGM Cabang Magelang. Arsip-arsip tersebut menjadi bukti keberadaan UGM Cabang Magelang sekaligus saksi yang dapat menceritakan sejarah UGM Cabang  Magelang. Dalam Laporan Akhir Jabatan Pelaksana Pimpinan Harian UGM Cabang Magelang Tahun 1978 disebutkan riwayat singkat UGM Cabang Magelang. UGM Cabang Magelang bermula dari sebuah perguruan tinggi swasta yang didirikan oleh Yayasan PTM. read more
previous arrow
next arrow
Slider

Opini

Program Penyusutan Arsip di Rektorat Universitas Negeri Yogyakarta

Oleh Adhitya Eka Putri Dalam penyelenggaraan kegiatan administrasi, setiap lembaga perguruan tinggi selalu menghasilkan catatan/rekod. Tidak sedikit rekod, yang juga disebut sebagai arsip dinamis, tercipta melalui kegiatan persuratan. Perguruan tinggi ...

Telisik