Proyek Air Minum Lereng Merapi Mengentaskan Warga dari Kesulitan Air Bersih

Written by Arsip UGM on . Posted in Telisik

Pesona alam di lereng pegunungan tentu sangat indah, tanaman menghijau tumbuh subur di sekitarnya dilengkapi dengan suasana yang asri, dingin, dan sejuk. Keadaan seperti ini seharusnya bisa dimanfaatkan oleh masyarakat sekitar mengenai sumber daya alamnya untuk memenuhi kebutuhan sehari-hari. Untuk bisa mewujudkannya tidak cukup dengan cara yang sederhana tetapi dibutuhkan tenaga ahli dalam bidang pengelolaan sumber daya alam. Selain itu sentuhan teknologi yang tepat untuk mengolahnya sangat dibutuhkan dalam hal ini.

Pada awalnya masyarakat di lereng Merapi masih mangalami kesulitan dalam mencukupi kebutuhan yang sangat pokok dalam kehidupan, yakni air. Air dalam kehidupan ini berperan penting untuk memenuhi kebutuhan sehari-hari setiap makhluk hidup. Masalah ini tidak mungkin dibiarkan begitu saja tanpa mencari solusi yang tepat untuk mengatasinya. Pada tahun 1950-an atas prakarsa Bupati Sleman Dipodiningrat, direncanakan adanya perubahan penghidupan dan kehidupan yang lebih baik di Kecamatan Cangkringan. Karena keterbatasan masyarakat maupun Pemerintah Daerah Kabupaten Sleman maka dibutuhkan kerjasama dengan pihak lain untuk mewujudkan pengaliran air bersih. Akhirnya Pemda Sleman bekerjasama dengan Biro Pengabdian Masyarakat Universitas Gadjah Mada (UGM) dan World University Service (WUS), membuat sebuah proyek instalasi air bersih dari Tuk (mata air) Bebeng.

Proyek ini termaktub dalam Laporan Tahunan Universitit Negeri Gadjah Mada Tahun Pengadjaran 1964/1965, 20 September 1965 yang diantaranya menyebutkan bahwa “penelitian dilakukan di Tjangkringan daerah Dati II Sleman mengenai pemanfaatan air Tuk Bebeng agar dapat digunakan rakjat sekitarnja”. Hasil  kerjasama ini  diharapkan dapat memberikan suatu perubahan kehidupan yang lebih baik kepada warga lereng Merapi sehingga mereka dapat menikmati air bersih dari mata air Bebeng. Perlu diketahui bahwa proyek air bersih yang berasal dari Tuk Bebeng ini merupakan proyek pertama kali yang dibangun secara terpadu yang dipelopori oleh pihak perguruan tinggi yaitu UGM.

Trackback from your site.

Comments (2)

  • gatot

    |

    Semoga membawa berkah buat warga, lanjutkan

    Reply

  • Summer

    |

    that the whole Early Empire began (also the beginning of the III dynasty, whose second monarch is Djoser) c. 2700.In any case all the article expresses many doubts on early Egyptian chronology, so I guess that these C14 dates provide just a more precise datation without suttsanbially altering it, at least for the early period. More interesting is maybe the date for the beginning of the New Kingdom, which arose after the expulsion of the Hyksos, providing a more solid date maybe for this critical but ill-known event.

    Reply

Leave a comment