Forum Kearsipan Universitas Gadjah Mada (Forsipagama) menegaskan kembali pentingnya nilai kebersamaan, spiritualitas, dan integritas melalui gelaran Syawalan 1447 H yang berlangsung khidmat di Ruang Seminar Gedung L1 Lantai 2 Perpustakaan dan Arsip UGM. Acara yang digelar pada Rabu (15/4/2026) tersebut menjadi ruang refleksi sekaligus penguatan jejaring antarpegiat kearsipan di Universitas Gadjah Mada.
Rangkaian kegiatan diawali dengan pembacaan ayat suci Al-Qur’an oleh Isti Maryatun, S.ST.Ars., yang menghadirkan suasana teduh dan penuh kekhusyukan sebagai pembuka acara. Selanjutnya, Ketua Forsipagama, Heri Santosa, S.ST.Ars. menyampaikan sambutan sekaligus laporan kegiatan Forsipagama selama triwulan 1. Ia menegaskan bahwa Forsipagama berperan sebagai ruang kolaborasi untuk meningkatkan kapasitas dan profesionalisme pengelola arsip di UGM.
“Forsipagama menjadi ruang tumbuh bersama, tempat kita saling menguatkan dalam menjaga kualitas pengelolaan arsip yang profesional dan berintegritas,” ujarnya.
Sambutan kemudian disampaikan oleh Kepala Perpustakaan dan Arsip UGM, Arif Surachman, S.IP., MBA., yang menyoroti bahwa pengelolaan arsip tidak boleh dipandang sebelah mata, karena memiliki peran krusial dalam menjaga keberlanjutan informasi, akuntabilitas, dan memori institusi.
“Peran arsiparis juga krusial untuk memastikan semuanya tertata, aman, dan bisa dipertanggungjawabkan,” ujarnya.
Acara dilanjutkan dengan pembacaan ikrar Syawalan yang dipimpin oleh Nuraini Septiti, A.Md., sebagai simbol komitmen kebersamaan, saling memaafkan, dan penguatan solidaritas antaranggota Forsipagama.
Memasuki sesi inti, Ustaz Mulyadi Erman, S.Ag., M.A. menyampaikan hikmah Syawalan dengan menekankan pentingnya keseimbangan antara hablumminallah dan hablumminannas dalam kehidupan sehari-hari, termasuk dalam dunia kerja kearsipan. Ia menegaskan bahwa dua dimensi hubungan tersebut tidak dapat dipisahkan dalam membentuk pribadi yang utuh dan berintegritas.
“Islam mengajarkan keseimbangan antara hubungan kepada Allah dan hubungan kepada sesama manusia. Keduanya harus berjalan beriringan,” ujarnya.
Dalam ceramahnya, ia juga mengutip Surah Ali Imran ayat 103, “Wa’tashimuu bihablillaahi jamii’an wa laa tafarraquu”, yang menekankan pentingnya persatuan dan larangan untuk berpecah belah. Ia kemudian mengaitkan ayat tersebut dengan praktik silaturahmi dalam kehidupan sosial.
“Barang siapa yang menyambung silaturahmi, maka ia sejatinya sedang menguatkan hubungan dengan Allah melalui amal kebaikan kepada sesama,” jelasnya.

Pada kesempatan tersebut juga dilakukan pemberian kenang-kenangan kepada anggota Forsipagama yang telah memasuki masa purna tugas sebagai bentuk apresiasi atas dedikasi dan pengabdian mereka selama bertugas di lingkungan kearsipan UGM. Momen ini berlangsung hangat dan penuh haru, sekaligus menjadi penanda eratnya ikatan kekeluargaan di antara para pengelola arsip.
Acara kemudian ditutup dengan sesi halal bihalal, di mana para peserta saling bersalaman dan bermaafat sebagai wujud penguatan ukhuwah dan harmonisasi hubungan kerja. Momen ini juga menjadi ajang mempererat silaturahmi sekaligus memperkuat semangat saling menghargai dan bekerja sama dalam pengelolaan kearsipan di UGM.
Kegiatan ini sejalan dengan SDG 16 tentang Perdamaian, Keadilan, dan Kelembagaan yang Tangguh, yang menekankan pentingnya institusi yang terbuka, akuntabel, dan berintegritas. Selain itu, kegiatan ini juga mendukung SDG 17 tentang Kemitraan untuk Mencapai Tujuan, melalui penguatan kolaborasi, jejaring, dan kebersamaan antarpegiat kearsipan di lingkungan UGM.
Kontributor: Wasilatul Baroroh