Denting Gamelan Perpustakaan dan Arsip UGM Hidupkan Tradisi di Festival Karawitan Dies Natalis ke-59 Fakultas Filsafat

Di tengah hiruk pikuk perkembangan zaman, harmoni gamelan kembali mengisi ruang Festival Karawitan Fakultas Filsafat Universitas Gadjah Mada (UGM). Melalui dua kelompok karawitan binaannya, Pustaka Laras dan Kidung Laksita, Perpustakaan dan Arsip UGM membawa semangat pelestarian budaya dengan menghadirkan karya-karya karawitan Jawa dalam rangkaian Dies Natalis ke-59 Fakultas Filsafat UGM pada 18–19 Juli 2026.

Bukan sekadar pertunjukan seni, kehadiran Perpustakaan dan Arsip UGM dalam festival tersebut menjadi bagian dari upaya menjaga keberlangsungan budaya Nusantara. Melalui alunan gamelan dan lantunan tembang Jawa, Perpustakaan dan Arsip UGM menghadirkan ruang perjumpaan antara tradisi, pengetahuan, dan generasi masa kini.

Sebagai institusi yang berperan dalam menjaga memori kolektif, Perpustakaan dan Arsip UGM melihat pelestarian budaya sebagai bagian dari upaya merawat pengetahuan yang hidup di tengah masyarakat. Upaya tersebut diwujudkan melalui pengelolaan arsip sekaligus keterlibatan langsung dalam berbagai kegiatan budaya. Karawitan menjadi salah satu ruang bagi nilai-nilai tradisi untuk terus berkembang dan diwariskan lintas generasi.

“Bagi kami, perpustakaan dan arsip adalah ruang yang menyimpan sekaligus menghidupkan pengetahuan. Melalui karawitan, nilai-nilai budaya dapat terus dikenalkan dan diwariskan melalui pengalaman langsung bersama masyarakat kampus,” ujar Nugroho, koordinator kelompok karawitan Pustaka Laras Perpustakaan dan Arsip UGM.

Festival Karawitan Fakultas Filsafat UGM digelar pada 18–19 Juli 2026 sebagai bagian dari rangkaian perayaan Dies Natalis ke-59 Fakultas Filsafat UGM. Kegiatan ini menjadi wadah apresiasi seni tradisi sekaligus ruang kolaborasi berbagai kelompok karawitan dalam merawat keberadaan seni gamelan di lingkungan akademik.

Pada Sabtu (18/7), kelompok karawitan Pustaka Laras tampil membawa sejumlah repertoar karawitan Jawa, yaitu Ldr. Mega Banjaran Laras Pelog Patet Barang, Ayak-ayak Giyargiyar Laras Pelog Patet Barang, Sluku-sluku Bathok Laras Pelog Patet Enem, dan Prau Layar Laras Pelog Patet Enem.

Penampilan Pustaka Laras didukung oleh para pemain yang mengisi berbagai instrumen gamelan dan vokal, yaitu Tulasmi (Bonang Barung), Y. Sarno (Bonang Penerus), Herman Setyawan (Kenong), Anas Fauzi (Kempul Gong), Nugroho Sayekti (Slenthem), Peni Bektiningsih (Peking), Safirotu Khoir, Ratna Setyawati, Haryanta, dan Supriyono (Saron), Martina Uki dan Nurhidayati (Demung), Trisnandi Bagas (Kendang), Heri Santoso dan Dony (Gerong), serta Shelvy (Sinden).

Sehari berikutnya, Minggu (19/7), kelompok karawitan Kidung Laksita melanjutkan penampilan Perpustakaan dan Arsip UGM dengan membawakan tiga karya, yakni Ldr. Kate-Kate Laras Pelog Patet Enem, Llg. Dhdyohe Teka Laras Pelog Patet Enem, dan Lcr. Ayo Ngguyu Laras Pelog Patet Enem.

Kelompok Kidung Laksita diperkuat oleh Fitria Agustina (Bonang Barung), Ratna Setyawati (Bonang Penerus), Ide Yunianto (Kenong), Nugroho Sayekti (Kempul Gong), Wasilatul Baroroh (Peking), Delta Ira Anggreanie dan Nur Hidayati (Demung), Purwani Istiana, Isti Maryatun, Zuli Erma Santi, dan Nining Indaryani (Saron), Uminurida Suciati (Slenthem), Pratiwi Wibowo (Kendang), serta Emi Bowo (Sinden).

Melalui dua penampilan tersebut, Perpustakaan dan Arsip UGM menunjukkan bahwa seni tradisi memiliki ruang penting dalam kehidupan kampus. Karawitan menjadi ruang ekspresi seni sekaligus sarana pembelajaran budaya yang memperkuat hubungan antara manusia, sejarah, dan identitas lokal.

Kegiatan ini juga mendukung pencapaian Sustainable Development Goals (SDGs), khususnya SDG 4: Pendidikan Berkualitas melalui penguatan pembelajaran berbasis budaya serta SDG 11: Kota dan Komunitas Berkelanjutan melalui upaya pelestarian warisan budaya dan penguatan identitas masyarakat.

“Budaya akan tetap hidup ketika ada generasi yang mau mengenal dan meneruskannya. Kami berharap kegiatan seperti ini dapat menjadi langkah kecil untuk menjaga seni tradisi agar tetap hadir dan relevan di masa depan,” ungkap Delta, koordinator kelompok karawitan Kidung Laksita Perpustakaan dan Arsip UGM.

Dari panggung Festival Karawitan, suara gamelan kembali mengingatkan bahwa budaya bukan sekadar peninggalan masa lalu. Budaya adalah pengetahuan yang terus bergerak, dipelajari, dan diwariskan agar tetap memiliki makna bagi generasi mendatang.

Kontributor: Wasilatul Baroroh